Shohibu Baiti (cak Nun)

“Hilangkan semua kecuali Tuan Rumah Dirimu sendiri… ” (cak Nun)

Pertama aku galau, kedua aku haus, ketiga aku tidak tahu apa arti perjalanan hidup sampai di negeri Amerika ini. Aku sadar aku sedang belajar, entah belajar dalam arti sesempit2nya atau seluas2nya, sungguh aku sadar, aku belajar. Namun, tetap saja ada masa, seperti malam ini, dimana segala motivasi tidak lagi berbekas… yang ada hanya mempertanyakan, is this what I really want?

Lalu aku mencari damai, beberapa cara kucoba untuk bertemu dengan damai malam ini, melihat ke sekitar & berkumpul dengan teman-teman… aku tidak temukan damai itu, malah semakin menguap, entah mengapa. Pun aku cari damai yang lain, dengan melupakan apa itu damai dan tenggelam ditumpukan tugas-tugas, ah, semakin rasanya terpenjara… manusiaku tidak lepas, egoku tidak terbebas.

Aku sudah terlanjur percaya, ada sekolah yang memanusiakan manusia dan ada yang sebaliknya, dan saat ini ak merasa sekolahku tidak memanusiakan kemanusiaanku. Aku merasa terkungkung dalam ritual-ritual pendidikan. Akhirnya (sepertinya ini bukan yang pertama), ak sampai lagi ke taraf mempertanyakan ilmu seperti apa yang aku cari, ilmu yang bagaimana yang aku mau, kenapa ilmu-ilmu ini rasanya kosong? semua yang aku pelajari, aku baca dan pahami disini memang terlihat hebat, terdengar highly sophisticated, dan theoretically grounded… tetapi kenapa sering aku berpikir tentang pertanyaan2 yg sangat dasar, untuk apa ilmu-ilmu ini, untuk kepentingan apa&siapa… apakah untuk manusia? manusia yang mana? untuk ummat? ummat yang mana dan bagaimana? apakah untuk pengetahuan itu sendiri? kalau iya, kok ya sekuler banget, atau, apakah untuk aku sendiri? ilmu-ilmu ini? ah, betapa egoisnya… jika iya. Ironisnya, i kinda start over my life orientation, tidak tahu akhirnya aku akan jadi apa… oh, God.

Beruntung, mouse komputer tergerak untuk klik link ma’iyah di youtube… kali ini tentang diri, nilai ajaran sufi, dan benar saja, damai itu perlahan datang, hehe rupanya ini sumber galauku, aku rindu, rindu siraman untuk jiwaku yang sedikit kerontang. Alhmdulillah

Berulang-ulang aku dengarkan lantunan shohibu baiti… Tuhan, sungguh lirik ini, ingatkan aku akan siapa pemilik diriku… aku lupa siapa tuan rumah diriku sendiri, selama ini.

Rasanya sudah bertahun-tahun dengar kalimat “man ‘arafa nafsah- ‘arofa rabbah – man ‘arafa rabbahu ‘arafa nafsah (sesiapa yg tahu dirinya akan tahu Tuhannya, juga sebalikanya),” tapi rasanya baru kali ini tersadar, ada titik cahaya di palung paling tersembunyi di hatiku, di muhhy. Seolah selalu lupa, tingkatan hati ini berlapis-lapis… shadr-qalb-fuad-muhh.

Menurut cak Nun (sebelum nembang syair ini, which I really2 like): “Tidak ada apa-apa selain Allah dan Rasulullah, tidak ada orang hebat, tidak ada orang besar, tidak ada yang indah-yang baik-yang benar, karena semuanya larut dalam keagungan Allah dan keindahan wajah Rasulullah, S.A.W.”

Also, he says: “hilangkan semua, kecuali tuan rumahmu dalam dirimu… jangan memohon Allah untuk datang ke dalam hatimu, tapi yakinlah seyakin-yakinnya, Allah ada dan bersemayam dalam hatimu.”

Jangan khawatir tentang masa depan, ada Tuhan… jangan takut kejahatan orang, ada Tuhan… jangan takut dihinakan, ada Tuhan yang sangat mudah bagiNya memuliakan… jangan takut ditinggalkan, ada Tuhan… dan jangan sepi bersendirian, ada Tuhan… Ribuan makna akan terjaring tentang hidup, tentang perjalanan, tentang diri, tentang Tuhan… dengan bersendirian, pun Rasulullah gemar menyendiri kan? :)

Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’ma-n nashir.

Shohibu baiti… Ya shohibu baiti… (Tuan rumahku… Wahai tuan rumahku)

Imamu hayatii… Ya Imamu hayati… (Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku)

Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy… (Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku)

Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini… (Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku)

Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy… (Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku)

Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati… (Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku)

27/2, 2012. 6.55 am, Alden Library (ups! belum tidur, dan belum nulis paper^^).

 

About these ads

4 thoughts on “Shohibu Baiti (cak Nun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s